PEKANBARU – Mental korupsi yang dibingkai kepentingan nepotisme seperti dipertontonkan oleh oknum kepala daerah di Bengkalis selama ini, dan sudah sangat merugikan rakyat.
“Saya tidak perlu menunjuk orangnya. Silakan lihat sendiri,” ujar DR. Tuti Khairani, M.Si, Staf Pengajar di Fakultas Sosil dan Ilmu Politik – Universitas Riau (Fisip- UR), kepada awak media ini, Ahad (9/8).
Menurutnya, selain rendahnya pemahaman publik di kawasan sub-regional Bengkalis tentang nasionalisme, mata rantai mental korup dan nepotisme, seharusnya harus diputus disana.
Kalau tidak, lanjutnya, mereka akan terus merajalela dengan perilaku nepotisme, kolusi dan korupsi, yang sudah dinilai lazim.
“Jika terus dibiarkan, ini sangat berbahaya sekali untuk Bengkalis kedepannya,” tegasnya menjawab pers.
Nepotisme, katanya sering bermuara pada tindakan korupsi. “Lingkaran nepotisme itu sengaja dibentuk untuk memperkukuh eksistensi mereka,” kata Tuti.
Pakar Kebijakan Publik itu berharap, institusi pers independen menaruh perhatian khusus pada prospek kepemimpinan di Bengkalis.
“Pers independen masih bisa berbuat banyak, jika mau. Kewenangan Pers dalam berburu dan menyajikan imformasi kebenaran kepada masyarakat seputar Suksesi Bengkalis akan sangat signipikan,” katanya.
“Itu artinya, rakyat Bengkalis yang sudah dua periode belakangan, kecolongan memilih pemimpin bermental korup, tidak terulang lagi kedepannya,” tandas Tuti.**
Laporan by: gp2
Editor by: Mmd